Dari senja untuk dini , pandangan ku tak lebih dari hasil retasan malam senyap . Kerana nya dirimu itu hampa , kosong melompong seakan tanpa isi , karena sejati nya senjani tak utuh , hanya nampak sebentar lalu hilang termakan ketentuan sang pengatur waktu .
Detik mengoyak nya menjadi serpihan jingga yang pudar terhantam hitam nya malam , dari senja segala nya menjadi hampa hingga dini hari . Seraya jagat raya menunggu dini hari tiba , aku menunggu diri mu iba , dari senja sampai dini kami bersua berencana mengubah mu menjadi akasara .
Aku dan kopi berserta puisi , berdialektika merangkai kata untuk di baca malam dan menemani nya tertidur sampai matahari merayap naik ke atas permukaan atmosfer bumi . Matahari muda pagi ini menutup puisi ku bersama puisi tentang mu yang menjadi satu . Satu untuk tidak di persatukan dualitas yang tak terbantah .
Tak banyak kata yg bisa ku ungkap . Sudah lelah hati ini letih . Terlalu jauh ku berlari hingga lupa arah kemana aku harus pulang . Aku muak dengan semua janjiku sendiri . Aku benci dengan keadaan ini . Satu kali aku meneteskan air mata beribu ribu jeritan dalam jiwa. Ku ratapi dengan senyuman palsu . Bahkan jika itu adanya aku akan terus tersenyum di depan yg lain. Hari itu tak ingin ku ingat . Terlalu kelabu samar bayangan kesedihan . Sudah cukup semua itu hilang. Lenyap bagai tak ada yg peduli . Walau nyatanya pahit ini yg harus ku hadapi . Aku sanggup memang walau harus merangkak menerjang badai yg terus menerpa . Hingga akhir nya aku berhasil dengan seluruh luka .harapan yg hilang semua yg pergi dan hingga ku menemukan harapan yg baru . Inilah harapanku dialah dirimu.
Comments
Post a Comment