Rapuh
Hanya dahan lemah menopang nya
Tempat berbagi tawa
Tempat bersandar kala gundah mulai tiba
Tempat menghabiskan waktu bersama pena , menulis selembar puisi tentang cinta.
Rumah pohonku
Kala hujan datang
Aku menghabiskan waktu menatap tetes demi tetes
Menggurat dahan dahan dengan nama seseorang
Orang yang aku cintai
Pohonpun rela tersakiti
Apalagi hati ini
Kala malam kunyalakan lampu .
Memetik senar demi senar mengalunkan nada lara
Dari dalam rumah pohon
Aku bercerita lewat nada alunan nostalgia
Lelah jari memetik
kulanjutkan puisiku
Yang berjudulkan namamu
Bercerita tetang awal adanya rasa cinta.
Ketika ku tuliskan kata cinta
semua kembali
Hujan , sejuk , nyaman
Semua kembali
Pada akhir puisiku ku selipkan sedikit air mata
Ku tuangkan lewat kata
Kala sedihku mendera
Hanya tumpahan air dari kelopak mata yang hadir
memberi arti dalam nya rasa
hingga meluluhkan hati sampai tumpah air mataku
Tak kukira akan sedalam ini rasa cinta itu
Seorang yang sederhana
Mampu meluluhkan hati yang terikat kesepian
Ku akhiri puisiku dengan tiga titik terakhir
Ku tutup buku ku
Dan ku ucap sebagai janji
Aku akan kembali
Kita akan bersama
Tak banyak kata yg bisa ku ungkap . Sudah lelah hati ini letih . Terlalu jauh ku berlari hingga lupa arah kemana aku harus pulang . Aku muak dengan semua janjiku sendiri . Aku benci dengan keadaan ini . Satu kali aku meneteskan air mata beribu ribu jeritan dalam jiwa. Ku ratapi dengan senyuman palsu . Bahkan jika itu adanya aku akan terus tersenyum di depan yg lain. Hari itu tak ingin ku ingat . Terlalu kelabu samar bayangan kesedihan . Sudah cukup semua itu hilang. Lenyap bagai tak ada yg peduli . Walau nyatanya pahit ini yg harus ku hadapi . Aku sanggup memang walau harus merangkak menerjang badai yg terus menerpa . Hingga akhir nya aku berhasil dengan seluruh luka .harapan yg hilang semua yg pergi dan hingga ku menemukan harapan yg baru . Inilah harapanku dialah dirimu.
Comments
Post a Comment