Masih pena yang sama.
Masih rindu yang serupa .
Air mata yang dulu
Masih terasa.
Getir nya detik demi detik kisah ini.
Tak berujung .
Pena tolonglah tuliskan puisi rinduku .
Kertas , izinkan aku sampaikan rinduku.
Melaluimu dalam kata demi kata.
Meneteskan air mata di setiap puisi yang ku buat .
Aku tak ingin tersenyum lagi.
Sudah cukup aku bersandiwara.
Lelah ku jalani cinta yang semu.
Biar kelam hari hari ku.
Biar hitam semua detik demi detik ini.
Hanya aku yang rasa ,
Kamu , bahagialah di setiap harimu.
Akan ku temani lewat puisi puisi basi.
Ketas basah dengan hujan air mata.
Agar kau mengerti .
Apa harus aku basahi dengan tetes demi tetes darah yang ku punya.
Akan ku lakukan jika itu yang membuat semua hasrat mu terpenuhi.
Aku akan datang dengan selembar puisi terakhir.
Aku akan datang untuk yang terakhir
Kertas puisi itu akan ku biarkan basah karna hujan.
Akan ku biarkan robek karena hujan.
Agar kau tau bagaimana usahaku.
Agar kau paham bagaimana caraku mencintai .
Bukan diatas kertas .
Tapi diatas segalanya.
Tak banyak kata yg bisa ku ungkap . Sudah lelah hati ini letih . Terlalu jauh ku berlari hingga lupa arah kemana aku harus pulang . Aku muak dengan semua janjiku sendiri . Aku benci dengan keadaan ini . Satu kali aku meneteskan air mata beribu ribu jeritan dalam jiwa. Ku ratapi dengan senyuman palsu . Bahkan jika itu adanya aku akan terus tersenyum di depan yg lain. Hari itu tak ingin ku ingat . Terlalu kelabu samar bayangan kesedihan . Sudah cukup semua itu hilang. Lenyap bagai tak ada yg peduli . Walau nyatanya pahit ini yg harus ku hadapi . Aku sanggup memang walau harus merangkak menerjang badai yg terus menerpa . Hingga akhir nya aku berhasil dengan seluruh luka .harapan yg hilang semua yg pergi dan hingga ku menemukan harapan yg baru . Inilah harapanku dialah dirimu.
Comments
Post a Comment